Pempek Palembang: Menyingkap Sejarah, Filosofi Cuko, dan Keunikan Si Jajanan Ikan Legendaris
Apa Itu Pempek? (Kombinasi Sempurna Ikan dan Sagu)
Pempek adalah hidangan tradisional dari Palembang, Sumatera Selatan. Bahan utamanya adalah daging ikan giling(umumnya Tenggiri atau Gabus) yang dicampur dengan tepung sagu atau tapioka. Adonan ini kemudian dibentuk menjadi berbagai varian, direbus, dan seringkali digoreng sebelum dinikmati.
Cuko: Sang Pendamping Wajib
Ciri khas Pempek yang tak terpisahkan adalah Cuko, kuah berwarna hitam kental yang terbuat dari:
- Gula merah/gula batok khas Palembang
- Bawang putih
- Cabai rawit
- Air
- Asam jawa atau cuka
- Cuko wajib memiliki perpaduan rasa yang kompleks: manis, pedas, asam, dan sedikit gurih. Kuah inilah yang menyegarkan dan menyeimbangkan rasa gurih ikan pada pempek.
Menelusuri Sejarah dan Asal-Usul Nama "Pempek"
Pempek memiliki sejarah yang kental dengan interaksi budaya di Palembang pada masa Kesultanan.
1. Peran Tokoh Tionghoa dan Ikan yang Melimpah
Sejarah Pempek dimulai sekitar abad ke-16. Pada masa itu, masyarakat Palembang, yang hidup di sekitar Sungai Musi, memiliki tangkapan ikan yang sangat melimpah. Namun, banyak hasil tangkapan tersebut tidak dapat diolah dengan baik dan cepat membusuk.
Konon, seorang pria tua Tionghoa yang tinggal di kawasan Ulu (seberang Ilir) merasa prihatin dengan kondisi tersebut. Ia kemudian berinisiatif mencampur daging ikan giling dengan sagu bahan yang sudah dikenal saat itu dan mengolahnya menjadi makanan yang tahan lama, yang kemudian dikenal sebagai kelesan.
2. Asal Mula Nama "Pempek"
Pria tua Tionghoa tersebut menjajakan kelesan buatannya dengan berkeliling menggunakan sepeda. Karena usianya yang sudah tua, para pembeli sering memanggilnya dengan sebutan "Empek" atau "Apek" (sebutan untuk paman/orang tua dalam bahasa Hokkian).
Ketika ingin membeli, mereka akan memanggil, "Pek, Empek, mampir sini!"
Panggilan inilah yang kemudian melekat pada hidangannya, dan nama Pempek atau Empek-empek pun lahir dan bertahan hingga sekarang. Ini membuktikan adanya akulturasi budaya Tionghoa yang kuat dalam kuliner Palembang.
3. Ikan Belida yang Terlantar
Pada awalnya, bahan baku utama Pempek adalah Ikan Belida. Namun, seiring berjalannya waktu dan populasi Ikan Belida yang semakin langka dan mahal, para pengusaha Pempek mulai beralih menggunakan jenis ikan lain seperti Ikan Tenggiri atau Ikan Gabus, yang rasanya tidak kalah gurih.
Ragam Jenis Pempek yang Populer
Kelezatan Pempek Palembang terletak pada ragam bentuk dan isiannya. Setiap jenis memiliki cara pembuatan dan ciri khas rasa yang berbeda:
- Pempek Lenjer: Berbentuk silinder atau batangan panjang. Ini adalah bentuk paling dasar dan sering disebut sebagai "induk" dari Pempek.
- Pempek Kapal Selam: Varian terpopuler yang berisi sebutir telur ayam atau bebek di bagian tengahnya. Nama "Kapal Selam" konon berasal dari proses merebusnya, di mana pempek yang diisi telur akan tenggelam ke dasar panci dan baru mengapung ketika sudah matang.
- Pempek Adaan: Berbentuk bulat seperti bakso, dibuat dengan adonan yang lebih lembut, dan umumnya langsung digoreng tanpa direbus.
- Pempek Kulit: Dibuat dari adonan kulit ikan yang digiling. Rasanya sangat gurih dan teksturnya renyah setelah digoreng.
- Pempek Tunu (Pempek Panggang): Berbentuk bulat pipih, dimasak dengan cara dibakar di atas arang. Pempek ini disajikan dengan dibelah tengah dan diberi isian ebi, kecap manis, dan cabai tumbuk.
Garis Besar Cara Pembuatan Pempek (Lenjer)
Pembuatan Pempek membutuhkan kesabaran dan ketelitian, terutama dalam menakar perbandingan ikan dan sagu agar hasilnya kenyal dan tidak keras (kalis):
- Adonan Dasar: Daging ikan giling dicampur dengan air, garam, dan bumbu halus, lalu diuleni hingga tercampur rata.
- Penambahan Sagu: Tepung sagu (atau tapioka) dimasukkan secara bertahap. Teknik menguleni harus cepat dan tidak terlalu lama agar adonan tidak menjadi alot (keras).
- Pembentukan: Adonan dibentuk memanjang (lenjer), atau cekung dan diisi telur (kapal selam).P
- Pemasakan: Pempek direbus dalam air mendidih hingga mengapung dan matang sempurna.P
- Penyajian: Pempek yang sudah matang dapat langsung digoreng atau dibakar, kemudian disajikan bersama irisan timun dan kuah Cuko.
Pempek Palembang adalah sebuah warisan budaya yang tak hanya menawarkan kenikmatan rasa yang legendaris, tetapi juga menyimpan kisah akulturasi dari masa lampau. Jika berkunjung ke Palembang, pastikan Anda membawa pulang Pempek sebagai oleh-oleh, dan tentu saja, resep rahasia Cuko-nya!
Penulis : Najla Aliyya Tiffani
Sumber : Sejarah Pempek

Wahh, aku suka banget pempek. Paling enak makan pempek pake cuko yang masih hangat. Jadi pengen makan pempek
BalasHapus