“Rahang Tuna: Sajian Premium yang Kini Jadi Favorit Pecinta Seafood”










 Rahang tuna mungkin bukan bagian yang pertama kali dicari orang ketika ingin menikmati hidangan laut. Namun, bagi mereka yang sudah pernah mencicipinya, bagian ini sering dianggap sebagai permata tersembunyi dari seekor tuna. Tekstur dagingnya yang lembut, perpaduan lemak alami yang menempel di sekitar tulang, serta rasa gurih yang muncul tanpa usaha berlebihan membuat rahang tuna mendapatkan tempat istimewa di kalangan pecinta seafood.

Bagian ini terdiri dari tulang wajah beserta daging pipi yang menempel di sekitarnya. Dalam tradisi kuliner Jepang, rahang tuna dikenal sebagai tuna kama dan dianggap sebagai salah satu bagian yang paling juicy setelah perut tuna berlemak. Tidak mengherankan jika hidangan yang memanfaatkan bagian ini kini semakin populer, baik di rumah makan sederhana maupun restoran yang mengusung konsep fusion atau Jepang modern. Saat dipanggang, lapisan lemak di sekitar tulang perlahan meleleh dan menyatu dengan daging, menghasilkan aroma dan rasa yang khas, seolah menyajikan sensasi menikmati daging premium.

Selain terkenal karena rasa dan teksturnya, rahang tuna juga memiliki nilai gizi yang cukup tinggi. Kandungan protein di dalamnya relatif tinggi, sementara omega-3 yang terdapat di jaringan lemaknya memberikan manfaat bagi kesehatan jantung. Beberapa penelitian tentang struktur daging pipi ikan menunjukkan bahwa bagian ini menyimpan kolagen alami yang baik untuk kesehatan kulit dan sendi, sehingga tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga memberikan manfaat nutrisi yang penting.

Asal-Usul Rahang Tuna: Dari Laut Lepas ke Piring Hangat

Masakan rahang tuna berakar dari tradisi maritim masyarakat pesisir Sulawesi, terutama nelayan-nelayan yang terbiasa menangkap ikan-ikan besar seperti tuna. Tuna sendiri banyak ditemukan di perairan Indonesia bagian timur, dan karena ukurannya yang besar, ikan ini sering dipotong-potong bagian tubuhnya untuk diolah. Nah, bagian rahang yang dulunya dianggap “kurang berharga” atau sekadar sisa, ternyata punya potensi rasa luar biasa. Dari sinilah kreativitas dapur lokal berbicara.

Masyarakat mulai mengolah rahang tuna dengan berbagai teknik, dan dari waktu ke waktu, bagian ini justru jadi menu premium yang sering dicari, apalagi di restoran-restoran khas Manado dan sekitarnya.

Zuzur saya pun baru tahu hidangan ini, karena di Malang untuk mendapatkan ikan-ikan laut segar harus ke pantai selatan dulu, dengan menempuh 2-3 jam perjalanan. Terus biasanya masak tuna terbatas referensi, kalau nggak disup ya dikukus lalu dibumbu balado atau kuah kuning.

Jenis Olahan Rahang Tuna: Dari Bakar Sampai Rica-Rica

Masakan rahang tuna hadir dalam berbagai versi, tergantung siapa yang masak dan di daerah mana kamu mencobanya. Tapi beberapa olahan yang paling terkenal antara lain:

1. Rahang Tuna Bakar
Ini yang paling umum dan banyak dijumpai. Biasanya rahang dibumbui terlebih dulu—kadang hanya garam dan jeruk nipis, kadang juga dengan bumbu lengkap—lalu dibakar perlahan hingga matang merata. Hasilnya? Kulit agak garing, tapi dagingnya moist banget di dalam.
2. Rahang Tuna Rica-Rica
Nah ini khas Manado. Rica-rica adalah sambal pedas dengan irisan cabai rawit melimpah, bawang, tomat, dan daun jeruk. Rahang tuna yang sudah dibakar atau dikukus akan dilumuri bumbu rica-rica yang pedas dan segar—perpaduan yang bikin keringat ngucur, tapi tetap nggak berhenti makan.
3. Rahang Tuna Woku
Woku adalah bumbu khas Sulawesi Utara dengan aroma harum dari daun kemangi, daun kunyit, serai, dan daun jeruk. Rasanya kompleks: pedas, asam, dan segar. Cocok banget buat kamu yang suka cita rasa penuh lapisan rasa.
4. Rahang Tuna Kuah Asam
Ini versi yang lebih ringan, dengan kuah bening yang segar dari perasan jeruk dan tomat. Cocok disantap siang hari dengan nasi hangat dan sambal dabu-dabu.

 

 

Cara Mengelola

Cara mengolah rahang tuna pun sangat beragam. Banyak orang menyukainya dalam bentuk panggang karena metode ini mampu mempertahankan kelembutan dagingnya sekaligus menonjolkan rasa gurihnya. Ada juga yang mengolahnya dalam bentuk sup pedas, rica, atau kuah kuning untuk menghasilkan hidangan yang lebih kaya rempah. Di berbagai daerah pesisir, terutama wilayah Indonesia timur, bagian ini bahkan dianggap sebagai hidangan istimewa yang sering disajikan ketika menerima tamu penting.

Dalam beberapa tahun terakhir, rahang tuna menjadi semakin mudah ditemukan. Banyak toko seafood modern, pasar ikan, hingga platform belanja daring menjualnya baik dalam kondisi segar maupun beku. Harganya pun relatif terjangkau bila dibandingkan dengan fillet tuna, sehingga menjadi pilihan menarik bagi mereka yang ingin menikmati hidangan premium tanpa harus mengeluarkan biaya besar. Untuk mendapatkan kualitas terbaik, memilih rahang tuna yang masih segar sangat disarankan—warna merah cerah, tidak berbau menyengat, dan tidak dipenuhi kristal es jika dibeli dalam keadaan beku adalah ciri produk yang masih baik.

Dengan segala kelebihan yang dimiliki, tidak heran jika rahang tuna kini menjadi bagian yang makin populer di kalangan penikmat kuliner. Rasa yang berbeda dari potongan tuna lainnya, tekstur yang lembut, dan kemudahan dalam pengolahan menjadikannya pilihan menarik bagi siapa pun yang ingin mencoba sesuatu yang unik dari dunia seafood. Rahang tuna bukan sekadar bagian sampingan dari seekor tuna, melainkan sebuah pengalaman rasa yang patut dicoba.

Kesimpulan

Rahang tuna adalah potongan tuna yang unik, penuh rasa, bergizi, dan cocok diolah menjadi berbagai hidangan. Bagian ini bukan hanya menawarkan pengalaman makan yang berbeda, tetapi juga menjadi bukti bahwa setiap bagian ikan dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Bagi pecinta seafood atau siapa pun yang ingin mencoba kuliner yang “beda”, rahang tuna adalah pilihan yang harus dicoba setidaknya sekali seumur hidup.

 

Ditulis Oleh : Muhammad Zidhan

 

Referensi

1. FAO – Food and Agriculture Organization. Tuna Species & Nutritional Characteristics.
2. NOAA Fisheries. Tuna Anatomy and Edible Cuts Overview.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasi Goreng Kampung, Merayakan Kesederhanaan dan Kearifan Lokal Nusantara

Tumpeng Dari Warisan Budaya Hingga Simbol Tradisi

SOTO BETAWI SEBAGAI WARISAN KULINER